4 Tantangan yang Dihadapi Smart City di Era Digital

4 Tantangan yang Dihadapi Smart City di Era Digital

Anda tertarik untuk melihat masa depan pada sebuah kota? Smart city bisa menjadi jawaban, seperti halnya Jakarta dan Surabaya. Di kota ini, semua hal yang berhubungan dengan layanan masyarakat mejadi lebih efektif dan efisien. Tapi, di tengah kesempurnaan yang ditawarkannya, berikut beberapa tantangan yang harus dihadapi Kota Pintar ini di era digital.

  1. Meningkatkan Kualitas SDM

Anda tentu sering mendengar program wajib belajar yang berlaku untuk 9 tahun pendidikan atau yang disebut Wajib Belajar 9 tahun (Wajar 9 Tahun), yaitu SD dan SMP. Nah, untuk konsep Kota Pintar, masyarakat wajib mengenyam pendidikan lebih lama lagi, yaitu sampai SMA (Wajar 12 Tahun).

Tidak hanya ‘City’, mewujudkan ‘People’ yang bermartabat dan ‘Smart’ menjadi tantangan utama dalam mewujudkan konsep smart city. Salah satu contohnya adalah dengan menyediakan KJP (Kartu Jakarta Pintar) bagi warga berprestasi dan kurang mampu yang tinggal di Provinsi DKI Jakarta.

Kartu ini tidak hanya bisa digunakan sampai SMA, tapi juga perguruan tinggi, khususnya yang berstatus negeri. Harapan dari adanya Wajar 12 Tahun ini adalah semakin banyaknya masyarakat kelas bawah yang memperoleh penghidupan yang layak serta mampu mengatasi keterbatasan dengan kecerdasannya.

  1. Meningkatkan Kualitas Layanan Umum

Smart city jelas bukan program yang hanya didasarkan pada mimpi di siang bolong. Semuanya memerlukan perencanaan dan pertimbangan yang matang dengan melibatkan banyak pihak, terutama dalam pelayanan umum yang mencakup bidang transportasi dan infrastruktur.

Contoh nyata yang sudah diterapkan adalah fiber optic (serat optik) di kawasan BSD Timur sebagai salah satu layanan Digital Hub. Serat optik ini menawarkan koneksi internet dengan kecepatan tinggi dan stabil. Setiap pelayanan bisa dilakukan dengan sangat efektif. Contoh lainnya bisa Anda lihat pada TransJakarta dan MRT (Mass Rapid Transportation).

  1. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

Konsep kota cerdas bukan hanya menjadi PR dan kerja keras yang hanya dilakukan oleh pemerintah kota, tapi melibatkan partisipasi masyarakat juga. Oleh karena itu, masyarakat bisa ikut andil dalam pembangunan serta melakukan pengawasan terhadap berbagai hal yag terjadi di lingkungan sekitarnya.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu menjawab tantangan pembangunan di era digital. Di antaranya adalah dengan cepat tanggap dan melaporkan permasalahan penting yang terjadi di sekitarnya. Caranya adalah dengan memanfaatkan layanan pengaduan seperti Qlue, Call Center 164, SMS Center, dan media sosial.

Contoh lainnya adalah dengan melibatkan masyarakat yang merintis usaha startup untuk ikut membantu membuat aplikasi penunjang program Kota Pintar ini. Dengan demikian, pemerintah tidak sekadar melibatkan masyarakat, tapi juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang serta memberi pengetahuan secara meluas tentang pentingnya program ini.

  1. Mengatasi Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk bumi semakin bertambah dan perlu solusi untuk menjawab tantangan ini, tidak terkecuali bagi yang tinggal di Kota Pintar. Kota padat penduduk biasanya diidentikkan dengan kumuh dan tidak layak huni.

Nah, pemikiran inilah yang harus segera disingkirkan. Program green building bisa menjadi solusi agar sebuah kota padat tetap layak huni dan ramah lingkungan. Contoh nyatanya adalah dengan menerapkan konsep rumah vertikal.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa smart city mengintegrasikan ICT dalam semua pelayanan publik. Nah, berbicara tentang ICT, ada Lintasarta yang memiliki banyak pengalaman dalam menyediakan jaringan komunikasi yang terhubung internet. Oleh karena itu, semua tantangan yang dihadapi Kota Pintar bisa dihadapi dengan baik jika melibatkan Lintasarta.